Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 0
  • 13
  • 667
  • 30,545
  • 327,213
Artikel

Kanjuruhan

Seperti rumah, suatu tempat yang pertama kali mengenalkanku tentang ketenangan. Kanjuruhan adalah suatu tempat yang pertama kali mengenalkanku tentang sepak bola Indonesia. Tak hanya itu, Kanjuruhan mengenalkanku dengan sate bekicot dan jajanan lainnya tapi tidak dengan dawet! Tentu aku tak ingat persis tanggal, hari, dan jam pertama kali aku nribun di Kanjuruhan -aku hanya bisa mengingat di antara kelas 4 atau 5 sd- karena aku sudah lupa dan tak mencatatnya. Selepas itu, aku mencintai Arema dan sepak bola Indonesia, dinamikanya, meski semua itu kusut.

Jarak memisahkanku dengan Kanjuruhan karena aku tumbuh besar di Kota yang berbeda namun kecintaan dengan Arema tetap terasa dekat. Beberapa kali aku menempuh jarak sekitar 350 kilometer menyempatkan untuk datang ke Kanjuruhan. Terakhir kali aku kesana saat masih kuliah semester akhir sekitar awal tahun 2019, Final piala presiden 2019 -Arema juara- dan sebagian besar aremania turun kelapangan merayakan kemenangan. Tidak ada gas air mata walau suasana begitu riuh dan penuh suporter ditengah lapangan. Pikiranku jadi teringat momen 2010 di GBK saat Arema menjuarai Indonesia Super League (ISL). Aremania tumpah masuk ke lapangan, merangkul pemain, meminta baju pemain, dan penuh sesak. Namun sekali lagi, tak ada gas air mata!

1 Oktober 2022 jadi pengulangan laga yang sama dengan Final 2019 walau di kompetisi yang berbeda. Tepat saat peluit panjang babak kedua dibunyikan segera aku matikan televisi dan berniat tak membuka media sosial. Hasil pertandingan ternyata tak sesuai dengan harapan dan membuatku berpikir “turu ah”. Pagi datang, begitu juga kesedihan. Tragedi Kanjurahan ternyata terjadi sesaat setelah televisi ku matikan. Aku tak akan membahas kejadian ini, tentu aku dianggap tidak fair karena aku adalah Aremania. Namun coba ku pandang dengan sudut pandang rasionalitas pun aku tak bisa untuk tidak menyalahkan polisi. Mereka salah mengartikan sikap aremania yang turun ke lapangan -yang itu sering juga dilakukan untuk berkomunikasi dengan pemain- dan salah pula dalam menangani kerumuhan yang terjadi. Semoga lekas bangkit Arema dan sepak bola Indonesia. Lekas cerdas pula untuk polisi Indonesia.

Ujung dari tragedi ini juga sudah bisa ditebak. Tak ada yang mau bertanggung jawab, rakyat yang “lebih kecil” selalu salah, evaluasi hanya angin lalu, dan terulang lagi. Tak perlu makan di warung pecel untuk meng-klaim diri pro wong cilik, dengan adanya kasus ini masyarakat juga tau bahwa penguasa saat ini tidak pro wong cilik.

Ingat dengan Iwan Fals? Musisi hebat yang sering menciptakan lagu saat Indonesia sedang tidak baik-baik saja? Tragedi Kanjuruhan ini membuatnya kembali menuliskan syair indah berisi kekecewaan yang menandakan Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

#Kanjuruhan #TragediKanjuruhan #Arema

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Konten ini dilindungi !!