Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 1
  • 207
  • 606
  • 23,108
  • 302,783
Artikel

Surveillance Capitalism, Penindasan Baru di Era Ekonomi Baru

Surveillance Capitalism – Lagi dan lagi, mau tidak mau, suka tidak suka, dewasa ini kita diharuskan selalu membahas mengenai perkembangan teknologi. Masif memang perkembangannya. Memusingkan juga (kata Eric Kutcher dkk) [1]. Mari kita kerucutkan kata “teknologi” ini pada pembahasan internet digital dan turunan derivasinya (search engine, e-commerce, dan social media). Gelombang perkembangan ini seperti dikatakan oleh Milton Mueller sebagai globalisasi unilateral (unilateral globalism) [2]. Internet telah menjadi realitas global yang tidak bisa dibendung. Separuh lebih penghuni bumi telah menggunakannya dan pengaruh yang diciptakan merembes begitu cepat dan memberikan perubahan serius dan dramatis. Mirisnya lagi, globalisasi ini hanya dikontrol oleh satu negara: Amerika Serikat (Apple, Google, Microsoft, Amazon, dan Facebook). 

Dari paragraf pengantar yang dijelaskan diatas, sebenarnya sudah timbul sebuah problem: The Winner Takes All Market. Maksudnya bahwa ranah digital ini menunjukan monopoli platform yang menyeluruh yaitu pasar dengan pemain terbaik (terbesar) yang akan mengambil keuntungan yang lebih besar. Pemain lain hanya akan memperebutkan bagian keuntungan yang sangat kecil dan akhirnya berguguran [3]. Ini akan menciptakan kesenjangan (capitalism). Tapi kan, sejarah terciptanya internet memang dari Amerika Serikat? Oke, mari bahas sedikit tentang negara ini. 

Sudah diketahui bersama bahwa Amerika Serikat adalah pelaku awal penemuan (dan pengembangan) internet. Bahkan pendanaan besar mulai terjadi di tahun 1960-an sebagai antisipasi terhadap perang dingin (militer) dengan Blok Timur. Jika kita cermati sejarah perkembangan internet dengan jelas menunjukkan cara serta proses pelaku bisnis dan pemerintah (Amerika Serikat) bahu-membahu dalam upaya mengembangkan dan memaksimalkan pemanfaatan internet. Kapitalisme yang terbentuk kemudian merupakan suatu struktur desain dan dijalankan sesuai dengan proyeksi kepentingan Amerika Serikat dalam gimmick era baru komputer dan digitalisasi. 

Pandangan demokratis-deliberatif tentang ranah digital menurut Mosco sangat dominan pada awal perkembangan teknologi internet itu [4]. Saat itu internet dikembangkan sebagai persoalan kemajuan teknologi dan sains. Pengusaha serta pusat-pusat penelitian bekerja sama menciptakan jaringan informasi. Memang pada saat ini negara sudah ikut campur dan tampil sebagai sponsor utama. Namun tujuannya adalah membentuk ruang publik yang demokratis. Situasi mulai berubah pada awal 2000-an dimana pengusaha fokus menggarap potensi ekonomi dari internet. Negara juga semakin menyadari bahwa internet sangat strategis untuk membangun sistem pengawasan baru yang efisien dan mencakup skala yang sangat besar. Sejak saat ini penetrasi Apple, Google, Microsoft, Amazon, dan Facebook makin terintegrasi dalam strategi Geopolitik Amerika Serikat. Misalkan saja seperti kemenangan Barack Obama pada pemilihan presiden 2012 yang memiliki simbiosis dengan Amazon [5]

Menurut Dan Schiller, ini seperti pada teori perubahan sosial yang mengarah pada Marxisme, yang menempatkan negara dan pemilik modal sebagai faktor paling penting (tidak terpisahkan) terkait perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat terutama perubahan struktur ekonomi-politik yang kapitalistik [6]. Tentu dengan dukungan pemerintah ini (alokasi sumber daya pendukung, bantuan modal, tata aturan, privilege dari hambatan yang mungkin terjadi), pebisnis dan pemilik modal (dalam hal ini perusahaan platform) dapat dengan mudah mengatur produksi secara lebih luas. Sebaliknya perusahaan platform akan memberikan timbal baliknya (berupa legitimasi atas peraturan, kebijakan, prioritas) meskipun bertentangan dengan keadilan, demokrasi, kesetaraan, dan hak asasi manusia [7]. Kerja sama antara pebisnis dan pemerintah dalam pengembangan internet salah satunya dalam konteks proses penyimpanan dan pengolahan data perilaku pengguna internet. Ini yang akan berkaitan dengan fenomena Surveillance Capitalism topik utama yang akan dibahas dalam artikel ini. 

surveillance capitalism
Photo by Chris Yang on Unsplash

Oke, cukup mungkin membahas tentang Amerika Serikat ya. Sekarang, apa itu surveillance capitalism? Ini merupakan sebuah fenomena yang muncul karena adanya digitalisasi. Istilah ini merujuk pada bentuk pasar yang baru dan logika akumulasi modal yang sangat spesifik yang muncul bersamaan perkembangan kapitalisme digital [7]. Ya, intinya pengawasan perusahaan platform kepada seluruh penggunanya demi kemajuan pihak mereka (kapitalisme). Konsep surveillance capitalism erat kaitannya dengan kapitalisme digital.

Zuboff dalam buku Master or Slave: The Fight for the Soul of Our Information Civilization, menjelaskan bahwa surveillance capitalism mengacu pada beberapa keadaan sebagai berikut: (1) di zaman digitalisasi sekarang ini, ada pihak yang lebih kuat dan canggih dibandingkan dengan institusi negara dalam kemampuan melakukan mata-mata (pengawasan). (2) Pihak tersebut bukan institusi intelijen negara atau institusi formal negara melainkan swasta (perusahaan platform). (3) Objek pengawasan bukan saja kelompok tertentu tapi semua orang bukan melalui peralatan yang sangat eksklusif melainkan peralatan yang hampir semua orang memiliki: telepon genggam. Perusahaan berupaya melakukan pengawasan ini dengan tujuan mendapat data dan objek periklanan (ekonomis) namun seperti yang dijelaskan sebelumnya negara ikut campur untuk kepentingan geopolitik. Latar belakang dan asal mula tentunya karena adanya beberapa hal seperti: revolusi digital, ekologi media, internet of things, cloud of things, dan big data.    

Digambarkan Zuboff, pelopor fenomena ini adalah perusahaan platform global seperti Google, Amazon, dan Facebook. Mereka melahirkan mekanisme fungsi pengawasan guna melahirkan prediksi. Masalahnya, prediksi itu dihasilkan melalui infiltrasi dan pengawasan yang dalam atas kehidupan privat pengguna internet. Beberapa cirinya juga telah diuraikan oleh Zuboff seperti sebagai berikut: 

Pengawasan terhadap semua orang

Internet of things membuat makin banyak barang atau peralatan yang terkoneksi dengan internet juga makin banyak telepon pintar yang beredar membuat durasi penggunaan internet tidak terkendali. Makin aktif menggunakan internet membuat pengawasan digital yang dilakukan perusahaan platform makin masif. Secara hiperbolis Zuboff mengatakan, “Sebagian orang Amerika menyadari ada dua kelompok orang yang pergerakannya secara rutin di pantau. Kelompok pertama ini memang dipantau oleh pengadilan dengan memasak pelacak pada kakinya, sementara kelompok kedua mencakup semua orang di luar kelompok pertama sejauh mereka aktif menggunakan internet.” 

Hampir gerak-gerik kita selalu di pantau seperti dalam penjara yang setiap sudutnya memiliki CCTV. Sesungguhnya kita memasuki era dalam sistem pengawasan dan kontrol perusahaan platform. Hidup menjadi objek surveillance capitalism sehingga mari berpikir ulang tentang konsep privasi dan kedaulatan pribadi.

Pengaturan dan pengendalian secara real time

Saat ini banyak data perilaku kita seperti keberadaan, kemana kita pergi, rincian tentang rute perjalanan, rincian kebiasaan berkendara, dan lainnya telah menjadi komoditas baru yang sangat berharga bagi perusahaan platform dan itu hanya milik perusahaan platform. Data itu tentunya menciptakan pengendalian yang secara dinamis dan real time mengarahkan dan mendorong modifikasi perilaku pengguna internet sehingga berusaha untuk mengubah dan mempengaruhi perilaku kita demi menghasilkan keuntungan bagi perusahaan platform. 

Tidak sekadar mengawasi namun juga merubah perilaku

Perusahaan platform tidak hanya mampu memetakan kebutuhan dan kecenderungan konsumsi pengguna tetapi juga secara intens mengusulkan berbagai hal agar barang ingin dibeli atau dikonsumsi. Menurut Zuboff, tujuan akhirnya adalah mengubah perilaku pengguna (manusia) dalam skala tertentu. 

Bergerak di luar hukum

Bisa dibilang, kemajuan teknologi yang cepat tidak dibarengi dengan kemampuan negara untuk mengaturnya (entah disengaja atau tidak). Pada tataran empiris, terjadi praktik penggelapan atau penghindaran pajak produk-produk digital. Di Indonesia sendiri, wajib pajak hanya berlaku untuk perusahaan asing yang memiliki kantor fisik di Indonesia. Produk Google baru-baru ini baru membayarkan pajaknya setelah memiliki perwakilan kantor yaitu Google Indonesia. Sebelum memiliki kantor fisik tersebut tentu produk Google bebas pajak. Di Inggris dan negara lain lebih rumit lagi karena terganjal perihal hak paten dan royalti atau yang lebih dikenal sebagai istilah double irish with a dutch sandwich

Tidak ada yang benar-benar gratis

Seharusnya kita sadar bahwa kita tidak menggunakan platform mereka dengan cuma-cuma alias gratis. Tidak ada yang benar-benar gratis diberikan perusahaan platform kepada pengguna. Barter free service dengan free data telah mengembalikan modal yang telah dikeluarkan oleh perusahaan platform sehingga orientasi perusahaan ini selalu untuk mengejar jumlah pengguna atau meningkatkan jumlah pengguna secara terus-menerus. Disini pengguna internet merupakan sumber daya utama yang didapatkan secara gratisan. Data perilaku pengguna tersebut akan diolah untuk menghasilkan prediksi masa depan perilaku pengguna yang dapat digunakan sendiri oleh perusahaan platform atau diperjualbelikan.

Hegemoni kesadaran

Pengguna internet tidak memiliki kuasa atas dari perilakunya sendiri. Menjadi objek pengawasan dan pengendalian serta tak lagi leluasa menentukan pilihannya sendiri. Pengguna internet seperti diperlakukan sebagai agregat, onggokan bukan sebagai individu yang unik dan berdaulat. Hak pengguna internet untuk menentukan dirinya sendiri telah tereleminasi oleh tindakan pengawasan dan pengendalian yang dilakukan perusahaan platform yang mereka gunakan. Uniknya, masyarakat umumnya tidak menyadari adanya pengawasan dan pengendalian digital ini. Mereka dibius dengan keasyikan layanan-layanan digital yang kian hari kian beragam dan “menghibur”. Bahkan ada pula yang berpikir pragmatis: yang penting eksis dan famous tak peduli apa resiko buruknya.

Penindasan baru di era ekonomi baru, begitulah kapitalisme digital bekerja. Manusia seperti tak memiliki privasi di dunia digital. Apakah ada pelanggaran hukum atau kebebasan atau hak asasi manusia? Mari telaah bersama, mari sadar digital bersama. 

Untuk bacaan lebih detail dan pemahaman yang lebih akurat, saya sarankan untuk membaca buku yang ditulis oleh Agus Sudibyo yang bisa diperoleh di toko buku atau melalui google play book pada link ini. Atau baca topik lain seputar programmer zaman now.

Referensi: 

[1] https://www.mckinsey.com/industries/technology-media-and-telecommunications/our-insights/grow-fast-or-die-slow

[2] https://issues.org/br_blumenthal-4/

[3] https://www.investopedia.com/terms/w/winner-takes-all-market.asp

[4] Chapter Marx in The Cloud, Vincent Mosco 2016

[5] https://www.forbes.com/sites/reuvencohen/2012/11/15/how-cloud-computing-helped-obama-win-the-presidential-election/?sh=2980f15d5251

[6] The Geopolitics of Technology, Dan Schiller 2016

[7] Jagad Digital, Agus Subdibyo 2019

7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *