Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 2
  • 725
  • 518
  • 23,155
  • 303,689
Artikel

Sampah Dunia

“Jangan biarkan bumi ini kiamat karena tidak mampu menahan beban sampah yang dihasilkan oleh manusia”

Pernyataan diatas mungkin bagi sebagian orang berlebihan dan tidak pernah terbayang jika bumi kiamat karena sampah. Saya juga tidak membayangkan hal itu terjadi namun fakta yang ada membuat saya terbesit pikiran “ya juga ya, bisa saja itu terjadi”. 

Dalam artikel ini saya membahas dua hal yang saling berkaitan yaitu tentang keadaan sampah dibumi dan upaya mengatasinya. Pembahasan ini saya mulai dengan mengajak kamu jalan-jalan.  

Sampah Indonesia Saat Ini

Destinasi pertama adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang yang ada di Kota Malang. Sampah yang dihasilkan warga Kota Malang akan berakhir di TPA ini. Setiap hari datang kurang lebih 600 ton Sampah yang dibawa oleh truk-truk setelah mengambil dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang berada di Kota Malang. Tentu jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit. Di kutip dari kumparan, “Lapangan rampal adalah lapangan olahraga milik militer terluas di Malang Raya. Luasnya sekitar 13,7 hektare. Dalam sehari, sampah di Kota Malang jika dijadikan satu, bisa untuk menutup lapangan seluas itu. Belum kab. malang, swasta, dan yang terbuang sembarangan” kata Hendra Goenawarman, kepala seksi (Kasi) Kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang.

Itu baru Kota Malang, bagaimana dengan Indonesia? Setiap hari, Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah dalam setahun atau kurang lebih 175 ribu ton dalam sehari. Ini baru yang berakhir di TPA belum termasuk yang berserakan. Di Jakarta saja, setiap hari petugas sampah berhasil mengangkat sekitar 300-400 ton yang ada di sungai. Bisa dibayangkan bagaimana kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai.

Sampah Dunia

Dunia Saat Ini

Itu baru yang di Indonesia, bagaimana dengan di seluruh bumi? Di kutip dari The Conversation tahun 2018, data sampah yang ada di bumi ini pada 60 tahun terakhir berjumlah 8,3 milyar ton dengan rincian 6,3 milyar ton merupakan sampah plastik. Mirisnya, dari 6,3 milyar sampah tersebut hanya 9,5% yang di daur ulang dan sisanya berakhir di TPA dan lautan. Nah, dari 90,5% yang tidak di daur ulang, disebutkan dalam suatu penelitian bahwa apabila sampah sebanyak itu di jadikan kantong plastik berukuran 30 cm maka setara dengan 7,2 trilyun kantong plastik. Jika kantong plastik itu di susun berjajar semua maka akan memiliki panjang 2.160.000.000 km. Panjang ini setara dengan kurang lebih 54.000 kali mengelilingi bumi atau kurang lebih 5.168 kali pulang pergi bumi bulan. 

Mungkinkah bumi ini kiamat karena sampah? Mungkin sekarang kamu mulai terbesit “iya ya mungkin saja”. Ini adalah isu yang sudah lama dihadapi bumi namun hingga sekarang masih belum dapat teratasi dengan baik. Bagaimana kita bisa menguranginya terutama sampah plastik itu semua di mulai dari kesadaran kita masing-masing.

Zerowaste

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan prinsip zerowaste. Menurut website zerowaste.id, zerowaste adalah filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya sehingga produk-produk bisa digunakan kembali. Zerowaste juga menjauhi single use plastic atau plastik yang hanya digunakan sekali.

Tujuannya adalah agar sampah tidak dikirim ke landfill. Jadi zerowaste itu tidak hanya mengenai recycle atau mendaur ulang. Ini miskonsepsi yang umumnya terjadi. Padahal sebenernya zerowaste itu dimulai dari Refuse, Reduce, and Reuse. Saat benar-benar sudah tidak memungkinkan untuk 3 hal tadi, baru dilakukan Recycle dan Rot.

Intinya zerowaste menantang kita semua untuk mengevaluasi gaya hidup kita dan melihat bagaimana sesuatu yang kita konsumsi bisa berdampak negatif terhadap lingkungan. Kenyamanan yang berbentuk dengan produk murah, material yang tidak bisa didaur ulang merusak kesehatan planet kita dan berkembangnya manusia dan spesies hewan di seluruh dunia.

Bea Johnson dari Zero Waste Home mempopulerkan 5 R ini: “Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot” atau di dalam bahasa indonesia “Menolak, Mengurangi, Menggunakan Kembali, Daur Ulang, Membusukkan”. 5R ini menjadi pegangan untuk mengarah kepada gaya hidup tanpa limbah sehingga dapat menciptakan lebih sedikit limbah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Cara Termudah

Ada juga cara paling mudah untuk kita pahami bersama adalah dengan menerapkan prinsip cegah, pilah, olah. Jadi sebisa mungkin mari kita cegah. Tolak sampah masuk ke rumah adalah sebuah langkah besar untuk merawat bumi kita. Biasakan bawa tas, wadah makan, botol minum saat kita bepergian untuk mengindari plastik sekali pakai.

Untuk sampah makanan bisa kita cegah dengan selalu menghabiskan makanan atau rencanakan dengan baik kebutuhan makanan untuk di masak setiap harinya agar tidak ada yang terbuang. Jika ada sisa makanan tersisa, bisa juga berikan kepada ayam atau hewan peliharaan lainnya. Jika dengan mencegah tetap saja masih ada sampah baru lakukan pilah. Pilah sesuai dengan jenisnya lalu setelah itu bisa di olah menjadi kompos untuk sampah organik atau daur ulang dan bawa ke bank sampah untuk anorganik terutama sampah plastik.

Tidak ada kata sempurna dari zerowaste lifestlye dan ketidaksempurnaan ini jangan dijadikan alasan untuk tidak memulainya. Jangan juga saling menjudge satu sama lain saat mereka mengklaim berhidup zerowaste tapi masih menggunakan plastik, mungkin mereka sedang mencoba. Zerowaste bukanlah tujuan, tapi proses. Dan mari kita bersama-sama menjalani proses ini.

2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *