Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 1
  • 118
  • 606
  • 23,019
  • 302,694
Perspektif

Kapan Programmer Dianggap Senior? Programmer Zaman Now

Memang paling tepat ngomongin programmer di zaman sekarang ini. Ya, zaman now! Profesi programmer memang sedang banyak diminati sejak dunia masuk ke zaman teknologi. Hmm, atau lebih tepatnya sedang banyak dibutuhkan. Mungkin bapak, ibu, pakde, bude kamu tidak akan paham dengan bidang pekerjaan programmer. Bahkan bisa jadi kata “programmer” aja beliau-beliau tadi tidak tahu.

Di kolom Perspektif Halokes.com ini saya tidak akan membahas apa itu programmer, apa saja yang dikerjakan programmer atau persamaan programmer dengan ngepet. Semua yang saya sebutkan tadi pasti sudah disediakan oleh portal berita atau website informasi lainnya seperti yang dijelaskan di website ini. Nah, pada kesempatan ini saya hanya akan mengajak kalian untuk membaca santai mengenai pendapat para programmer terkait beberapa pertanyaan yang telah saya ajukan kepada mereka. Nomor empat bikin kalian tercengang!

Sumber gambar dari freepik

Mengapa memilih menjadi programmer?

Berbagai alasan pasti akan menjadi jawaban dari pertanyaan ini. Mereka (para programmer) mengatakan murni karena mereka suka dengan coding. Menjadi programmer juga jalan untuk berkarya, menciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain maupun pribadi dan bisa research terhadap hal hal baru. Coding merupakan seni yang bisa diimplementasikan menjadi berbagai hal yang berguna. Jika seniman berkarya, programmer juga berkarya. “You can create a beautiful things by code”, begitu kata mereka. Gaji besar dan ruang kerja yang fleksibel juga menjadi alasan memilih jalan ninja ini. Kerja dikamar juga bisa!

Menurutmu, bagaimana “image” programmer di mata masyarakat non-programmer?

Saya sengaja tidak membuat narasi dari jawaban pertanyaan ini. Berikut beberapa jawaban mereka:

“Seseorang yang kerjanya duduk dan membuat program.”

“Masih sering dianggap bisa ngehack atau bisa perbaiki komputer maupun printer.”

“Pekerjaan mikir, padahal tinggal search google.”

“Sebagian orang mungkin menganggap introvert, atau sebagian orang juga belum paham apa tugas programmer.”

“Diem dapet uang.”

Menurutmu, kapan programmer dianggap senior?

Mampu untuk mengambil keputusan terkait hal teknis yang tepat berdasarkan aspek non teknis merupakan salah satu parameter perspektif penilaian programmer dianggap senior. Selain itu, menekan ego dan mampu membimbing rekan satu tim juga menjadi pertimbangannya. Pengalaman seseorang dalam berbagai profesi juga selalu identik dengan lama mereka menekuni bidang tersebut. Programmer pun tidak luput dari perspektif tersebut. Pengalaman ngoding kurang lebih 5 tahun juga menjadi parameter berikutnya menurut mereka para programmer. Namun didunia IT, perubahan selalu ada dalam perkembangannya sehingga penguasaan berbagai bahasa pemrograman dan framework juga penting sebagai tolak ukur programmer dianggap senior.

Hal paling unik yang pernah dialami saat menjadi programmer?

Lagi-lagi saya tidak membuat narasi untuk jawaban pertanyaan ke empat ini. Silahkan dinikmati.

“Dapet request impossible dari client.”

“kalau pengalaman selama jadi programmer, beberapa hal yang mungkin bisa saya bagikan. Pertama perlu kita ketahui adalah setiap orang pasti akan punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalahnya, jadi kita tidak mungkin bisa memahami caranya orang lain secara tepat hanya berdasarkan membaca codenya, setidaknya dapat dilengkapi dengan diskusi bersama dengan pembuatnya.”

“Dalam membuat program yang scale up, saya tidak menganjurkan menggunakan template component, sebaiknya dibuat sendiri sehingga ketika perlu di custom, tidak memakan waktu yang lama. Ketiga ada banyak cara menuju indonesia, bisa lewat darat, air, atau udara, tetapi pasti ada satu yang paling mudah dan efisien, begitu juga ngoding, kita bisa menyelesaikan masalah dengan banyak cara baik dari segi pengaturan split code, network architecture, responsive apps, tech framework, tapi pertanyaan selanjutnya apakah itu efisien dan efektif? Untuk mengetahui itu, maka kita perlu jam terbang yang tinggi dan juga melakukan research terhadap hal tersebut, jaman sekarang sudah mengarah pada how to optimize daripada how to build.”

“Saat diberi tugas oleh PM deadline hanya 1 hari, padahal kalau diukur butuh waktu 3 hari, tetapi diminta untuk selesai cepat, kalau tidak di telpon dan di chat piye, piye.”

“Gak digaji selama 3 bulan.”

Kalau kamu tidak menjadi programmer zaman now, kira-kira sekarang memilih menjadi apa?

“Pelarian” mereka adalah jadi network engineer, teknisi jaringan, ui/ux, offshore di bidang perminyakan hingga salesman. Ya, sebagian tetap ada di ranah IT sebagian juga banting stir ke profesi lainnya.

Hmm, saya cukupkan untuk memaksa mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan. Menjadi programmer atau profesi lainnya adalah kebebasan yang bisa kamu tentukan sendiri. Tidak perlu “terlalu” mendengarkan orang lain untuk mengaturmu menjadi apa yang mereka inginkan. Jadikan dirimu nyaman dan senang melakukan hal yang cocok karena kamu yang akan melakukannya.

Hidup juga tidak melulu soal bekerja dan menjadi tenaga kerja. Jika kita korelasikan dengan pendidikan yang didapatkan kurang lebih 13 tahun lamanya, apakah tujuannya hanya untuk mencetak tenaga kerja -walaupun kelihatannya begitu tujuan pemerintah- ??? Apakah hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun harus dihabiskan untuk bekerja??? Apakah manusia di desain untuk menua di kantor bersama dengan meja kerjanya??? Pertimbangkan!

Thanks to Dege, Rigun, Yudo, dan Ray yang sudah mau meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan!

7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *