Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 0
  • 222
  • 851
  • 22,572
  • 303,872
Kolom Pendidikan

Pendidikan Anak Tetap Tanggung Jawab Orang Tua

“Sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal.” 

R.A.Kartini

Ya, begitulah R.A.Kartini pernah berpesan kepada masyarakat Indonesia. Apa yang diungkapkan Beliau sangat pas dengan keadaan pendidikan di Indonesia terlebih di era kekinian saat ini. Era dimana semua serba elektronik. Era dimana teman terbaik adalah Smartphone. Era serba efisien, serba cepat, serba mudah dan dimudahkan. Tak terkecuali pada dunia pendidikan. Ketika dicanangkannya sebuah gagasan tentang Go Green, dimana penggunaan kertas dikurangi, mendownload dan menggunakan E-Book dalam kegiatan belajar sangatlah mendukung gagasan itu.

Saat kegiatan belajar mengajar di sekolah atau di tempat lain mengalami kendala kurangnya referensi, browsing adalah solusi yang sangatlah membantu. Apalagi dengan banyaknya pengembang aplikasi mobile yang sadar akan pendidikan dengan membuat berbagai aplikasi yang menunjang kemajuan pendidikan, itu sangatlah positif. Tapi sebaliknya, jika Smartphone malah digunakan untuk mendownload konten – konten negatif contohnya saja pornografi atau ketika kamu sebagai pelajar tidak belajar ketika akan melaksanakan ujian, dan bergantung pada Smartphone dengan berkata “Halah, nanti juga bisa browsing pas ujian” atau malah kamu membuka Instagram, Line, Whatsapp, Mobile Legend, Youtube di saat guru sedang menjelaskan materi di depan kelas, itu sungguh sangat-sangat miris! 

Itulah mengapa umat manusia harus benar – benar paham penggunaan teknologi yang benar dan saling membenarkan. Jangan sampai Handphone semakin pintar dan kamu bodoh. Jangan sampai software Handphone selalu update tetapi kamu begini-begini saja. 

Percayalah! bahwa tempat yang paling tepat untuk ketenangan dan kedamaian jiwa, yang jauh dari citra kepalsuan adalah rumah sendiri. Rumah adalah tempat paling tepat untuk berkomunikasi. Ya, tentunya bersama keluarga. Disinilah seharusnya pendidikan dimulai. Lebih-lebih di era sekarang ini yang harus selalu dikontrol. Pertanyaannya adalah: Seberapa sering kamu sebagai orang tua menyisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak? Seberapa sering kamu sebagai anak menyisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan orang tua? 

source gambar: freepik.com

Keluarga merupakan kunci sukses berhasilnya proses pendidikan anak. Dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal. Tepat seperti apa yang dikatakan R.A.Kartini puluhan tahun yang lalu. Selama ini hampir semua orang tua percaya-percaya saja dengan menitipkan anak kepada guru – gurunya untuk bersekolah. Mulai dari TK-SMA. Kurang lebih 12 tahun para orang tua percaya dan berharap bapak dan ibu guru dapat memberikan bekal kepada anaknya dengan ilmu, nasihat, contoh kedisiplinan, attitude, moral, dan sebagainya. Ya memang sih beberapa guru mampu memberikan pembelajaran itu. Tapi sayangnya cuman beberapa, dan sebagian besar lainnya tidak. Kok saya tahu? Saya juga pernah sekolah. 12 tahun juga? Lebih malah.

Oke sekarang mari kita pulang kerumah. Mari bersama-sama cari tahu apa yang seharusnya dilakukan dalam kaitannya keterlibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan anak terutama di era sekarang ini. Sebenarnya tidak hanya di era sekarang ini. Kapan pun itu, peran keluarga sangatlah penting. Hanya saja keterlibatan keluarga dalam pendidikan sekarang ini akan lebih vital peranannya dikarenakan banyaknya budaya asing yang masuk melalui media elektronik.  

Mari dimulai dengan pertanyaan lagi, sudahkah anggota keluarga terutama orang tua menumbuhkan sikap berbagi? Proses ini sangat penting, terutama di usia dini. Tentu, dengan ditumbuhkannya sikap berbagi akan menumbuhkan juga rasa empati, menghargai, bersyukur, gotong royong, dan peduli terhadap orang lain. Bukan hanya itu, berbagi juga mengajarkan kebersamaan. Perkembangan sosial pada anak akan tumbuh dengan baik.

Maka ini akan menjadi benteng pertahanan yang baik untuk menghadapi kemajuan teknologi yang membuat sebagian orang bersikap individual dan acuh tak acuh. Jangan bosan-bosan kamu sebagai orang tua untuk selalu memberikan juga nasihat kepada setiap anggota keluarga untuk selalu berpikir positif. Berikan juga semangat dan sikap tidak menyerah. Ajarkan anak untuk mengenal kegagalan lalu ajarkan untuk kembali bangkit. Masa anak-anak sebaiknya ditumbuhkan sikap-sikap positif melalui penguatan-penguatan yang baik. Jangan tinggalkan juga aspek spiritual. Berikan contoh kepada setiap anggota keluarga untuk terus beribadah dan meningkatkan keimanan.

Lalu bagaimana sikap menghadapi kemajuan teknologi khususnya Smartphone? Melarang anak untuk menggunakan Smartphone ataupun menjauhkannya rasanya tidak mungkin. Terus melakukan control dan memberikan batasan kepada anak merupakan solusi terbaik saat ini untuk meminimalisir dampak negatifnya. Tentu dengan memberikan edukasi juga kepadanya. Lantas, seperti apa batasan yang benar? Kamu seharusnya lebih tahu dengan kondisi anak. Silahkan tentukan batasan terbaik. Jadikanlah anak kamu sebagai Generasi yang cerdas digital.

Ya, inti dari keterlibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan anak adalah komunikasi. Setiap anggota keluarga harus dapat menjaga komunikasi antar sesama. Komunikasi yang baik akan melahirkan pemahaman yang baik. Pemahaman yang baik akan menghasilkan sikap yang baik. Luangkan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarga. Luangkan waktu untuk memberikan nasihat kepada anak. Sambutlah saat mereka pulang dari sekolah. Biarkanlah mereka istirahat sejenak lalu mulailah ajak berbicara, tawarkanlah bantuan dan berikanlah nasihat. Percayalah bahwa anak menginginkan perhatian dan dorongan dari orang tuanya. Jangan biarkan mereka kurang perhatian. Jangan biarkan kamu sebagai orang tua sibuk dengan urusan sendiri. Ingatlah dengan tanggung jawab. 

Sampai juga di paragraf terakhir dari tulisan Saya. Mendukung tumbuh kembang anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memberikan porsi belajar tambahan kepada anak dengan metode yang santai dan asik. Mengikuti les privat adalah salah satu caranya. Tidak ada niat ngajari, saya hanya mengingatkan saja. Toh saya belum merasakan juga menjadi orang tua. Tapi saya pernah menjadi anak-anak, remaja, dan beranjak dewasa. Yang terpenting adalah perlu adanya keseimbangan otak dan moral agar tercipta keselarasan. Perlu adanya keseimbangan antara pendidikan di lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga agar melahirkan keselarasan pula. Jadikan lingkungan keluarga juga terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan anak di era kekinian dengan pendidikan moral dan attitude yang benar dan membenarkan. #BacaBiarBaik

3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *