Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 5
  • 272
  • 518
  • 22,702
  • 303,236
Artikel

Memulai Bisnis dari Nol Tanpa Norak

Pembahasan singkat ini saya coba arahkan terhadap tingkah laku teman saya sendiri yang beberapa kali cukup mengganggu di timeline media sosial saya (entah twitter, instagram, dan baru-baru ini terjadi juga di linkedin). Tentu tentang ke-norak-an yang semakin menjadi-jadi. Anak muda yang bukannya menghadapi Quarter Life Crisis nya di usia 25 an tahun tapi justru dilanda ke-norak-an yang luar biasa karena media sosial. Di artikel Memulai Bisnis dari Nol Tanpa Norak ini saya akan ceritakan.

Beberapa waktu terakhir, saya cukup dibuat geram dengan postingan salah satu teman yang mulai banyak mengajari teman-temannya melalui media sosial tentang bisnis yang BARU SAJA iya rintis. Saya tekankan disini bahwa ia tidak sedang memposting konten untuk marketing bisnisnya, melainkan posting tentang ilmu-ilmu bisnis yang baru ia pelajari. Ia selalu posting screenshot hal-hal yang baru ia pelajari dan melakukan klaim bahwa hal tersebut sudah ia terapkan pada bisnisnya. Lho, lalu apa salahnya? Jawabannya ada di section video dibawah artikel ini. Lebih miris lagi branding terhadap namanya sebagai owner lebih kuat daripada branding terhadap nama brand atau produknya. 

image from freepik

Kalau coba kita tengok ke belakang, Nadiem Makarim tidak akan membranding dirinya adalah founder atau CEO Gojek walaupun pada akhirnya ia memang dicari-cari oleh media. William Tanuwijaya pun demikian apalagi Elon Musk. Namanya akan ikut meroket saat brand dan produknya dikenal banyak orang sehingga fokus pada branding dan kualitas produk adalah hal yang utama bukan malah mem-branding dirinya sebagai founder atau owner. Semakin lama seseorang berbisnis semakin sadar juga ia bahwa membranding produknya akan jauh lebih berharga daripada membranding namanya sendiri sebagai owner. Mengapa demikian? Jika kamu terjebak dalam kasus seperti ini, ada dua hal yang sedang kamu alami. Pertama, pubertas dan yang kedua adalah Dunning Kruger Effect.

Pubertas 

Jika kamu sudah dewasa, coba ingat masa dimana kamu sedang beranjak remaja yaitu pada masa pubertas. Apa yang kamu tulis di status Facebook? Apa yang kamu cuit di Twitter? Bagaimana pola penulisan SMS yang pernah kamu tulis? Saya yakin 4l4y! Ya, begitulah awal masa remaja kamu. Begitu juga dengan awal bisnis yang kamu rintis. Kamu akan berada di fase alay terlebih dahulu. Orang lain pasti harus kamu beritahu bahwa INI LHO SAYA OWNERNYA. INI LHO SAYA BELAJAR INI ITU UNTUK BISNIS SAYA. Hati-hati, kamu harus bisa mengontrol ini atau kamu akan mempertaruhkan keberhasilan bisnismu dengan kegagalan. Fokuslah pada pengembangan bisnis. Cukup itu! 

Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi untuk bisnis rintisan. Sebagai karyawan atau pegawai baru kamu akan mengalaminya juga. Ditambah dengan media sosial yang akan membantumu untuk alay tentang pekerjaan barumu. Jika merasa kamu alay terhadap pekerjaan barumu segera arahkan fokusmu lagi untuk mengembangkan skill. Disaat kamu alay, disitulah temanmu sedang belajar menjadi lebih baik. Jangan sampai tertinggal!

Dunning Kruger Effect

Kedua adalah tentang Dunning Kruger Effect. Saat kamu merasa sangat ahli pada suatu bidang (misal bisnismu) padahal itu baru saja kamu pelajari -aku sudah baca ini itu, jadi akulah ahlinya-. Terkait hal ini, saya sarankan untuk membaca video dibawah ini karena Rianto Astono berhasil menjelaskan dengan sangat jelas. Silahkan tonton dulu:

Ya itu saja yang ingin saya sampaikan dalam tulisan berjudul Memulai Bisnis dari Nol Tanpa Norak. Hanya sebuah curhatan kecil yang ingin saya bagikan. Tetap fokuslah pada tujuanmu, jangan mencari pengakuan dan norak dulu. Sekali lagi, fokus pada tujuan! Terima kasih #BacaBiarBaik

25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *