Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 0
  • 583
  • 851
  • 22,933
  • 304,233
Perspektif

Jurnal Introvert: Bagian 0

src gambar: https://www.pusathosting.com/promo-transfer-hosting/attachment/happy-gembira

introvert /introvért/ : cenderung bersikap (berbuat, bertindak) menurut pikiran sendiri tanpa menghiraukan orang lain – Sumber: Kamus Bahasa Indonesia edisi elektronik (Pusat Bahasa, 2008)

Jujur saja, saya kurang setuju dengan pengertian menurut KBBI ini. Pengertian tersebut dapat menimbulkan pemahaman yang keliru bagi orang awam. Saya lebih suka dengan pengertian introvert yang saya dapat dari buku Quiet karya Susan Cain [1] yaitu bahwa seorang dengan kepribadian ini cenderung tidak mudah terangsang dengan lingkungan. Artinya, seorang introvert bukan begitu saja dapat diartikan tidak menghiraukan orang lain. Mengapa saya berani mengatakannya, tentu karena saya seseorang dengan kepribadian ini dan merasakan hal itu

Dalam buku tersebut juga menjelaskan bahwa seorang yang pemalu bukan berarti juga adalah seorang yang introvert. Kita sadari bersama dalam masyarakat sering terjadi miskonsepsi yang menyamakan seorang pemalu dengan introvert. Dari sisi pengertian, malu merupakan manifestasi dari rasa takut akan ketidaksetujuan atau takut terhadap suatu penghinaan [1] sedangkan introvert seperti yang dijelaskan diatas merupakan kecenderungan untuk tidak mudah terangsang dengan lingkungan. Introvert cenderung diam pada obrolan yang “tidak memiliki nilai” dan sangat tahu bagaimana menikmati kesendirian.

Susah memang memahami seorang introvert. Bahkan keluarga atau pasangannya saja akan mengalami kesulitan untuk memahaminya. Untuk pembahasan mengenai pasangan seorang intovert secara lebih dalam akan dibahas pada bagian berikutnya (entah bagian berapa). Introvert cenderung hanya akrab dengan seseorang dengan frekuensi pemikiran yang sama bahkan bisa dibilang teman dengan pemikiran yang tidak satu frekuensi dianggapnya hanya orang yang sekedar dikenal [2]. Aktivitas mabar alias main bareng tentu bukanlah aktivitas yang diinginkan karena kesendirian adalah kenikmatan. Bahkan pada sebuah penelitian akademis disuatu sekolah di Finlandia ditemukan bahwa seorang introvert harus mendapatkan dukungan ekstra dalam kegiatan belajar kelompok [3]

Idealisme merupakan kemewahan [4]. Seorang Intorvert mungkin sangat cocok ketika mendengar kutipan tersebut karena kepribadian jenis ini memiliki waktu lebih banyak untuk selalu berpikir dan berkontemplasi. Tentu dengan demikian selalu terbesit sebuah pemikiran yang mempengaruhi dirinya atau merevitalisasi dirinya (jika berpikir dengan akal sehat atau berpikir secara koheren dan konsisten). Ia akan hidup dengan idealis yang terbentuk dari pemikiran tadi sehingga nampak “berbeda” dengan umumnya orang. 

Di pandang sebagai seseorang yang tidak peduli dengan lingkungan hingga label sebagai orang depresi menjadi omongan yang biasa terdengar. Tersiksa karena rasa cinta yang tak mampu di ungkapkan hingga mati gaya dalam pernikahan menjadi bumbu perjalanan hidup. Bekerja tanpa bicara hingga benci HRD menjadi pengalaman seorang introvert dalam berkarir dan masih banyak lagi cerita yang akan saya tulis dalam beberapa bagian jurnal ini. 

Tidak banyak yang bisa saya tulis pada bagian 0 ini. Hanya beberapa kalimat yang mencoba menjelaskan pengertian Introvert yang saya dapatkan dari beberapa sumber. Sampai jumpa pada bagian selanjutnya. #HargaiIntrovert #introvert

Sambil menunggu bagian selanjutnya, kamu bisa baca cerpen ini dulu. Klik disini

Referensi: 

[1] https://play.google.com/store/books/details/Susan_Cain_Quiet?id=uyjf3uaQ4TwC

[2] https://www.youtube.com/watch?v=SbTMvVbPkwY

[3] Front. Psychol., 30 November 2020 | https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.590748

[4] https://books.google.co.id/books/about/Madilog.html?id=-D5MAQAACAAJ&redir_esc=y

1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *