Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 0
  • 36
  • 606
  • 22,937
  • 302,612
Cerpen

Cerpen Indonesia – Takdir Tidak Pernah Salah

Cerpen Indonesia Fiksi – Apabila ada kesamaan dalam penulisan nama dan tempat mohon untuk tidak tersinggung.

Suasana ruang kelas begitu tenang. Suara kipas angin yang terpasang di dinding kanan dan kiri terdengar lirih di telinga. Kipas angin tua lengkap dengan debu di sekelilingnya. Satu-satunya harapan yang membuat kelas ini terasa tidak gerah. Bangunan tua dengan dinding warna putih dengan corak coklat asimetris bekas rembesan air hujan. 

Asbes yang mulai menguning dengan hiasan sarang laba-laba di bagian sudut ruangan. Aku tak pernah ingin tahu sejarah sekolah ini. Aku hanya berasumsi bahwa sekolah ini dulunya bangunan yang didirikan oleh orang Jepang. Adanya signature ukiran berhuruf kanji di dinding depan tepat di bawah Garuda Pancasila menguatkan asumsiku itu. Sekolah tua minim prestasi yang harus selalu aku kunjungi enam hari dalam sepekan dengan segala keluh kesahnya.

Dalam keheningan suasana ujian, beberapa kali terdengar suara batuk dan bersin pengawas ujian fisika siang ini. Batuk dengan irama yang tak nyaman untuk didengar dan suara bersin yang terkadang mengagetkan. Tertulis beberapa rumus di papan tulis. Sengaja diberikan pengawas untuk memudahkan para murid mengerjakan ujian. 

Tapi apalah arti sebuah rumus tanpa pemahaman. Rumus-rumus itu hanya membuatku semakin pusing saja. Aku memang jarang masuk saat pelajaran fisika sehingga banyak materi-materi yang aku tidak paham. Dan semalam, aku menghabiskan waktu untuk nonton pertandingan sepak bola. Sama sekali tidak belajar.

Sepak bola. Untuk yang satu ini aku mencintainya. Sejak kecil bahkan aku berkeinginan untuk bisa berkarir di bidang olahraga sepak bola. Tapi gambaran suatu saat aku akan menjadi pemain sepak bola profesional hanya sebuah mimpi palsu. Mimpi yang selalu aku buat saat menjelang tidur malamku. 

Aku sebenarnya tidak berbakat dibidang ini. Bahkan dilihat dari silsilah, tak satupun dari saudaraku yang menjadi atlet. Kebanyakan bekerja kantoran. -Lokasi kantor yang cukup jauh, berangkat pagi dengan emosi yang belum stabil dan turut ambil bagian dalam kemacetan jalanan kota di pagi hari.- Begitulah rutinitas mereka.

Kala masih aktif bermain bola di sekolah sepak bola, aku mengawalinya sebagai penyerang, dan mengakhirinya sebagai penjaga gawang. Itu pun penjaga gawang cadangan. Begitu mengecewakan perjalanan karir sepak bola ku saat usiaku masih belia. Ricardo Kaka, Ronaldinho, Deco merupakan pemain idolaku. 

Posternya terpasang rapi berdampingan dengan pigura berisikan foto timnas Indonesia AFF 2010 di kamarku saat ini. Susunan pemain timnas yang tak lagi diragukan kualitasnya. Membabat habis Harimau Malaya di fase grup, namun dibantai tiga gol tanpa balas di laga final oleh tim yang sama pula. 

Citra buruk pun banyak berkembang di masyarakat saat itu. Match fixing dan mafia bola merupakan isu yang paling santer. Terlepas dari hal itu memang dunia sepak bola Indonesia sering dilanda permasalahan dengan kebobrokan para pengurusnya. Hukuman FIFA hingga merosotnya peringkat Indonesia di ranking dunia menjadi pemandangan klasik pecinta sepak bola tanah air. Trofi hanya untuk federasi yang bermutu. Aku percaya akan hal itu. Fikrar tak berbakat menjadi pemain sepak bola. Aku juga terpaksa untuk percaya dengan hal itu.

Waktu ujian masih cukup lama, sekitar empat puluh menit lagi. Ku lihat teman-teman sedang sibuk mengerjakan soal dengan sangat cermat sedangkan aku malah sibuk mencari jawaban teman dengan sangat cepat. Doni, teman sebangku dan Farizza yang duduk di depanku menjadi supplier jawaban untukku siang ini. 

Sebelum mulai ujian tadi, mereka berdua sudah sepakat mau membantuku. Jawaban Farizza menjadi prioritas utamaku selama kegiatan menyontek kali ini sedangkan jawaban Doni aku gunakan kalau Farizza tidak tahu jawabannya. Alasannya karena Farizza selalu menempati tiga besar di kelas dan Doni sebenarnya hanya mengandalkan keberuntungan. 

Doni adalah murid dengan faktor keberuntungan tertinggi di sekolah, menurutku. Menjawab soal dengan asal – asalan pun bisa membuatnya mendapat nilai baik. Itulah mengapa Doni tidak pernah belajar. Termasuk tadi malam saat dia lebih memilih menemaniku nonton bola. Dia percaya bahwa keberuntungan akan selalu bersamanya. Dan aku pun percaya bahwa keberuntungannya siang ini merupakan keberuntunganku juga.

Gerilya, merupakan taktik yang coba aku gunakan dalam perjuangan mencari jawaban ujian siang ini. Edy, S,Pd., merupakan wali kelas kami yang juga pengawas ujian kali ini. Seorang guru dengan nama tersingkat di kalangan guru-guru lainnya. Mungkin juga tersingkat seantero PNS golongan 3A atau bahkan seluruhnya. Beruntunglah beliau dapat menyelesaikan studi sarjananya, sehingga namanya sedikit ada tambahannya. 

Beliau berbeda dengan guru lainnya dalam mengemban amanah sebagai pengawas ujian. Beliau tidak bisa begitu saja di kelabuhi dengan cara-cara menyontek konvensional. Guru senior ini memiliki skill pengawas di atas rata-rata. Penglihatannya sangat tajam dan juga pendengarannya yang sangat peka. 

Itu sebabnya suasana hari ini begitu tenang. Pantat-pantat kami rasanya terpaku di atas bangku. Pandangan kami selalu tertuju pada LJU. Kami sekelas sadar, sedikit saja pergerakkan akan menimbulkan kecurigaan. Apabila tertangkap basah olehnya seorang murid sedang menyontek, konsekuensinya hanya satu, angka 35 di nilai akhir raport. Tak ada kata tapi, tak bisa mengelak lagi, dan nilai itu pun sudah pasti!

Namun, kali ini tidak seperti biasanya, Edy sering keluar kelas saat mengawas ujian. “Uhuk-uhuk” dan “wahing” yang beberapa kali mengisi kesunyian ruang ujian mengindikasikan beliau sedang mengalami masalah kesehatan. Batuk, mengusap hidung, dan membuang tisu yang penuh dengan ingus di tong sampah yang berada di halaman luar kelas menjadi kesibukan beliau. 

Inilah celah, inilah kesempatan. Dengan tetap meminimalkan pergerakkan, taktik gerilya ini berjalan saat sang pengawasan keluar kelas bersama ingusnya. Di luar dugaanku, Doni malah memulainya dahulu. Beberapa kali Doni mulai memberikan jawaban kepadaku. Karena aku dan Doni duduk sebangku, dia hanya perlu menggeser sedikit lembar jawabannya mendekatiku. 

Gila, Doni sudah selesai. Apa dia jawab cuma berdasarkan feelingnya tanpa mikir dulu ya. Ah bodo amat. Aku percaya kamu Don, batinku sambil mulai kutulis jawaban itu di kertas coret-coretan. Sedangkan Farizza menyuruhku untuk bersabar, sedikit lagi katanya. Jawaban Doni tidak serta merta langsung aku salin di LJU. Seperti yang aku bilang tadi bahwa prioritasku adalah jawaban milik Farizza.

Sambil menunggu Farizza, aku mencoba untuk menoleh ke belakang dan menanyakan beberapa jawaban kepada Arvian. Murid paling berprestasi berdasarkan nilai raport di sekolahku. Walaupun aku tahu mustahil untuk mendapatkan jawaban darinya. Dia adalah murid yang selalu menyelesaikan ujian pertama kali. 

Murid yang selalu menghabiskan waktu istirahatnya di kelas untuk mengerjakan soal-soal latihan di buku tebalnya yang selalu dia bawa. Didampingi kotak makan berisi roti tawar dengan olesan selai kacang yang dia bawa dari rumah. Sejak awal aku mengenalnya dia tidak pernah ganti menu untuk bekalnya. 

Mungkin selai kacang baginya adalah suplemen untuk meningkatkan daya ingat dan konsentrasi dalam berpikir. Tapi bagiku itu merupakan jalan menuju rematik dini. Ah menyedihkan.

Dengan posisi badan tetap menghadap depan dan kepalaku menoleh ke belakang, ku lihat Arvian sedang serius mengerjakan ujian ini. Pandangannya benar-benar tertuju pada LJU. Terlihat keringat menghiasi dahi dan membasahi kumis tipisnya. Raut wajahnya menggambarkan ketidak tenangan. 

Mungkin mentalnya sedikit terganggu karena kehadiran Edy sebagai pengawas ujian hari ini. Ku tanyakan beberapa nomor soal kepadanya. “Aku nggak tahu”, sambil menggelengkan kepala dan pandangannya tetap tertuju pada LJU, begitulah jawaban Arvian. Tanpa berkomentar, aku kembali ke posisi semula. Dasar anak “pintar”!

Edy tak kunjung masuk kelas lagi dan ku lihat Farizza sedang menuliskan jawabannya dengan sedikit tergesa-gesa di secarik kertas kecil. Tak lama berselang Farizza menoleh ke belakang dan pandanganku langsung tertuju padanya. Senyum yang jarang terlihat di wajahnya, siang ini muncul seakan khusus diberikan untukku. 

“Nih Fik! jawabannya. Besok-besok belajar ya!” katanya sambil memberikan secarik kertas itu kepadaku dengan senyum yang tak kunjung ia akhiri. Belum sempat ku ambil kertas darinya apalagi mengucapkan terima kasih, pandanganku beralih ke arah pintu kelas. Pergerakkan mataku nampaknya mengejutkan Farizza. 

Sontak ia kembali ke posisinya semula dan berpura-pura membaca lembar soalnya. Benar saja, Edy sudah kembali. Untung saja transaksi ini tidak terlihat olehnya. Namun sayang, secarik kertas jawaban itu terjatuh tepat di bawah kursi Farizza.

Edy berjalan dengan geraknya yang khas. Cepat dan menunduk. Dia menuju kursinya di ujung kanan kelas bagian depan kemudian duduk. Tangannya diletakkan di atas meja. Badannya tegak. Kepalanya bergerak pelan dari kiri ke kanan dihiasi dengan serpihan tisu yang tertinggal di ujung-ujung kumisnya. 

Matanya mengamati seluruh penjuru ruang kelas. Ah waktu tinggal sepuluh menit lagi, ayolah … ungkapku dalam hati seraya menggerakkan kaki untuk menjangkau kertas kecil Farizza yang jatuh. Seakan menjawab kegelisahanku, Doni berdiri sambil berusaha memakai waistbag-nya, membawa lembar jawabannya dan berjalan menuju kursi Edy dengan raut muka yang begitu tenang.

Nampaknya Doni sudah selesai mengerjakan ujian. Seluruh mata tertuju padanya tak terkecuali sang pengawas ujian. Beberapa teman tertawa kecil dan beberapa lainnya melongo melihat Doni menjadi orang pertama yang menyelesaikan ujian siang ini. Terlihat Edy memberikan senyuman yang lebih dapat diartikan untuk meremehkan Doni. 

Suasana kelas sedikit tidak kondusif. Seakan menjadi pembuktian bahwa Arvian untuk pertama kalinya tidak menyelesaikan ujian fisika sebagai yang pertama kalinya, kalah dengan Doni terlepas bagaimana cara ia menyelesaikan ujiannya itu. 

Tengkyu Don! ucapku dalam hati sambil menunduk kebawah meja untuk mengambil secarik kertas jawaban itu. Suasana yang tidak kondusif ini benar-benar menguntungkan aku. Keberuntunganmu siang ini merupakan keberuntunganku juga, Don! Sepuluh menit itu tepat menyelesaikan ujianku.

***

Sambil setengah berlari aku keluar dari ruang ujian. Menyusuri lobby sekolah yang dipenuhi beberapa teman angkatanku yang sedang asyik ngobrol atau sekedar menunggu jemputan dan beberapa senior yang sedang melakukan intimidasi kepada adik-adik kelasnya. Ya, intimidasi agar mereka mau ikut bergabung dengan Geng sekolah. Sekolahku memang memiliki geng sekolah dengan nama besar yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat kota khususnya dikalangan pelajar. 

Ditambah dengan senioritas yang masih sangat melekat di kehidupan sekolahku ini. Aku memang sedikit tidak nyaman ketika permulaan menjadi murid disini. Sungguh ucapan selamat datang yang sangat tidak menyenangkan dilakukan oleh seniorku saat aku menjadi siswa baru disekolah yang terletak di pusat kota ini. 

Inikah Suzuran? keluhku saat itu dan aku rasa tidak berlebihan. Bahkan aku mencoba mengelilingi sekolah dengan harapan aku bisa bertemu dengan Rinda-Man. Kemudian mengajaknya berpihak untukku sehingga dia melindungiku dengan menawarinya satu bungkus rokok dalam dua hari sekali sebagai imbalannya. Tapi aku tak menemuinya. Malah aku bertemu dengan Bhidu, sosok orang gila yang setiap hari melintas di depan sekolah sambil ngomel-ngomel yang terdengar seperti orang berkumur.

Aku semakin mempercepat gerakan, menerobos kerumunan orang-orang di lobby siang ini. Derap langkah kakiku terdengar begitu keras dengan sepatu pantofel yang aku kenakan hari ini. Seragamku mulai keluar dari setelan celana abu-abu walau ikat pinggang telah mengikatnya cukup kencang. 

Tas ranselku terombang-ambing ke kanan dan kiri di atas pantat mungilku. Sambil berlari aku mencoba mengeluarkan kunci motor dengan gantungan kunci bertuliskan La Tahzan yang ada di saku kanan celana. Sampai di tempat parkir segera aku menuju motorku dan mulai menyalakan-nya. 

Dari kejauhan aku melihat Faiq yang sedang bergerombol dan terlihat merundingkan sesuatu dengan teman-temanku yang lain. Aku berniat untuk meminjam helm-nya yang terletak tepat di sebelah motorku, terparkir bersama dengan motor Thunder keluaran tahun 2006 kesayangannya. Tak ingin mengganggunya dan tak ingin juga yang lain tahu bahwa aku pulang terlebih dulu, aku langsung mengambil helm milik Faiq dan berencana mengabarinya melalui SMS. Gapapa lah ya, rumah Faiq juga cuman belakang sekolah, batinku

Aku bergerak meninggalkan sekolah dengan terburu-buru. Mendung menghiasi langit Kota siang ini dan gerombolan burung berterbangan menuju sarang mereka. 

Gemuruh gluduk ikut menambah riuh hiruk pikuk jalanan kota. Beberapa pengendara motor yang bergerak dari arah utara terlihat sudah mengenakan jas hujan. 

Warna-warni jas hujan itu membelah kepulan asap bus kota dan becak motor yang melintas. Jangan hujan dulu, batinku sambil mengendarai motor dengan helm milik Faiq yang aku bawa dengan tangan kiriku. Ku arahkan pandangan ke arah trotoar jalan sambil sesekali tetap menjaga pandangan ke depan. Dalam perjalananku itu aku berharap Farizza belum berada di dalam bis yang akan membawanya pulang.

Aku memang belum terlalu akrab dengannya. Baru setengah semester ini aku mengenalnya. Penentuan jurusan kelas yang mempertemukanku dengan dia. Jurusan IPA yang kami pilih. Tidak sengaja minat kami sama. 

Atau mungkin kami hanya terbawa pengaruh nama besar jurusan IPA yang “katanya” identik dengan orang-orang cerdas dan madece alias masa depan cerah jika dibandingkan dengan jurusan IPS yang berlabel berandalan apalagi jurusan Bahasa yang jarang peminat atau malah sengaja ditiadakan.  Bisa jadi ini menjadi alasan banyak mengorbitnya manusia-manusia yang kurang sopan dalam berbicara hingga menyampaikan pendapatnya dan buruknya pengetahuan terhadap tata bahasa. Dari sini pula pelajaran bahasa dan sastra menjadi tidak menyenangkan. Terkesan hanya diselip-selipkan dalam kurikulum.

Dikelas, Farizza duduk berjarak satu meja di depanku bersama teman sekelasnya saat kelas sepuluh yang kebetulan juga sekelas lagi. Sedangkan aku, tidak satupun teman sekelasku di kelas sepuluh bersama lagi denganku. Seperti sebuah konspirasi yang sengaja membuatku terdiam lemas di hari pertama sekolahku di kelas sebelas kala itu.

Farizza!! Seruanku dengan suara melengking menembus jilbab putihnya dan terdengar cukup jelas olehnya. Langkah cepatnya terhenti di kerumunan pejalan kaki yang berlalu-lalang. Aku berhenti dengan posisi satu kaki menjadi tumpuan di ujung trotoar jalan dan mencoba memberikan tanda kepada Farizza dengan lambaian tangan. Dia melihat dan mulai mendekat, lagi-lagi dengan langkah cepatnya. “Fikrar! Kok kamu ada disini?” ucap Farizza yang sudah berada tepat di sampingku. 

“Aku anter kamu pulang ya. Ucapan terima kasih udah bantu ujian fisika tadi.” Jawabku sambil terus tersenyum sebagai balasan senyum Farizza di kelas tadi. “Kok malah bengong? Ayo cepetan naik keburu hujan! Ini helmnya” tambahku sambil memberikan helm ditangan kiriku kepada Farizza. Rintik hujan yang mulai turun menjadi alasan Farizza untuk langsung memakai helm dan naik ke motor tanpa sedikitpun berbicara. 

Dia naik, dan aku turun dari motor dengan posisi tangan memegang stang motor dan Farizza masih duduk membonceng motor. Dia melihatku dengan raut wajah kebingungan. Dengan tetap mempertahankan senyumku, aku berkata “Pakai jas hujan dulu. Turun dulu ya”. 

“Iiihh kenapa nggak bilang dari tadi!” sontak dia langsung memukul tubuhku dengan tas selempang rajutan yang dia bawa sambil tertawa dengan wajah yang sedikit memerah. Farizza turun dan aku mengambil jas hujan yang ada di dalam jok motor. Dia juga meminta agar tasnya di simpan di dalam jok motorku biar gak kehujanan begitu katanya. Setelah siap, kami berangkat tepat sebelum hujan turun dengan derasnya.

Tak ada sepatah kata pun yang kami ucapkan di perjalanan. Hanya diam. Suara hujan yang begitu riuh membungkam kami. Lampu kendaraan yang berasal dari arah depan terkadang juga menyilaukan mataku. Ditambah dengan tetesan air hujan yang membasahi kacamataku benar-benar mengganggu penglihatan. 

Gambar diambil dari Freepik.com

Mafhum saja bahwa helm yang aku kenakan adalah helm bogo tanpa kaca. Menyebalkan! Jalan K.H. Ahmad Dahlan kali ini tak seramai hari biasanya. Pohon-pohon berukuran besar dengan tinggi menjulang menjadi ciri khas jalan yang terbentang lurus dari arah datang dan tenggelamnya matahari. 

Bangunan-bangunan tua yang berjajar berhimpitan seakan menjadikan daerah ini tetap terasa hangat walau hujan deras sedang mengguyur. Terlihat dari jangkauan mataku, di emperan bangunan sepanjang jalan ini pengendara motor berkerumun berbagi tempat untuk berteduh. Hanya diam. Itu pula yang dilakukan mereka sambil menunggu hujan reda.

Obrolan hangat mulai terucap dari lisan kami. Aku geli saat tahu alasannya tak pernah mengendarai motor ke sekolah karena dia takut disalip pengendara lain saat naik motor. 

“Ya takut aja gitu kalo disalip, deg-degan sampe keringet dingin. Paling kenceng aja aku naik motor itu 30 km/jam” begitu katanya. Dia juga tertarik mendengar cerita-cerita konyolku. Obrolan demi obrolan terus bersambung, kata demi kata terus terucap. Perjalanan terasa begitu hangat ditemani canda tawa kami hingga tiba di tujuan. Angsana Nomor 14~

Begitulah aku mulai akrab dengannya. Begitu dekat dan erat 

***

“Papa, papa, masih jauh ga?”

“Papa kok diem aja?”, ucap Rizma sambil menepuk lengan kiriku dan membuyarkan lamunanku di perempatan jalan K.H. Ahmad Dahlan.

“oh, ya nak, iya masih lumayan ini. Kenapa nak?”, sautku.

“Rizma pengen pipis dulu”, ucap Rizma.

“oh Rizma pengen pipis? kalo gitu nanti berhenti dulu di Pom bensin depan situ ya, papa juga mau isi bensin”, jawabku.

Sial, aku mengingatnya. Aku kembali merasakan suasana yang sama ketika melintasi jalan ini. Waktu dimana aku mulai akrab dan pada akhirnya aku -pada saat itu- mencintainya. 

Takdir itu memang nyata. Takdir bisa berupa kondisi atau kesempatan dan sebuah kondisi itu harus diberi aksi hingga terjadi reaksinya. Memang saat itu aku mencintainya namun tak ada aksi yang aku lakukan untuk itu sehingga tak akan ada pula reaksinya darinya.

Aku terus mengendarai mobil dengan pikiran yang bergerak liar di 10 tahun lalu. Pandanganku sesekali mengarah pada Rizma. 

Sambil tersenyum, anak ini seperti ingin mengatakan “papa ga perlu mengingatnya lagi, mama dirumah adalah cinta sejati papa”.  Aku kembali mencoba untuk fokus -menyadarkan diri bahwa saat ini aku tidak ada rasa lagi dengannya. sama sekali-, memperhatikan jalan, spion kanan, kiri, dan spion dalam yang disana juga tergantung sebuah gantungan kunci bertuliskan La Tahzan. Jangan Bersedih!

***

Terima kasih telah membaca hingga akhir. Apabila suka, kamu bisa beri Clap pada bagian kiri bawah halaman ini. Apabila ada saran untuk penulis kamu bisa ketik dikolom komentar. Selain itu kamu bisa dapatkan kumpulan Cerpen Indonesia lainnya di The Halokes Story.

14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *