Langganan Artikel

Tunggu sebentar...
Ingin diberi tahu saat artikel kami diterbitkan? Masukkan alamat email kamu di bawah ini untuk menjadi yang pertama tahu. GRATIS!

Pengunjung

  • 0
  • 212
  • 851
  • 22,562
  • 303,862
Cerpen

Belantara Ditengah Kota


Hujan telah reda. Jas hujan yang dikenakan Fikrar sudah mulai mengering. Fikrar turun dari motornya lalu melepas helmnya disusul jas hujannya lalu menghirup nafas panjang, berharap udara selepas hujan ini bisa meredakan gejolak dalam dadanya. Beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya membuat beberapa tahun terakhir ini ia rasakan begitu berat, di tambah peliknya kuliah yang membuat ia harus membagi fokusnya . Kisah cinta yang tak kunjung menemui titik terang pun membuatnya gila dalam rasa sayang. Sangat ia sesalkan ketika harus mencintai sahabat sendiri. Kejujuran yang hingga bertahun – tahun tak di nyatakan tanpa disadari menambah beban dalam kehidupannya. Lelah pikiran, lebih – lebih fisiknya.

Vespa tua selalu menemani menyelesaikan segala urusannya. Cat hijau botol masih membungkus seluruh rangkaian besi tuannya dengan baik. Kaca spionnya lengkap dan speedo-meter yang terlihat mengkilap. Plat nomor yang sudah habis masa  berlakunya pun tak pernah di hiraukannya. Sekali dua kali ia pernah terbesit untuk menjualnya kemudian uangnya sebagai modal membuka usaha, namun Jasper selalu menolaknya melalui mimpi di tidur Fikrar. Jasper, tak ada makna khusus dari penamaan motor vespanya. Hanya sekedar pengembangan dari nama Casper, sosok karakter hantu yang sudah ia kenali sejak kecil.

Kala itu jalanan mulai ramai kembali. Aktivitas manusia kembali bergulir setelah tetes terakhir air hujan yang jatuh ke bumi. Langit siang tak mengingkari kodratnya untuk berganti menjadi senja. Sebuah pertanda yang selalu mengingatkan manusia  yang selalu di buat amnesia oleh keindahan fana dunia. Sambil melipat jas hujannya, Fikrar memandang lurus trotoar yang berada tepat di depannya. Lengkap dengan tenda semi permanen, para penjual kaki lima kembali menjajahkan sajiannya. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sosok pejalan kaki berusia cukup tua. Beliau membawa tongkat yang berada di tangan kanan untuk membantunya berjalan. “Dunia hitam” sudah beliau tinggalkan. Tak sedikit pun rambut hitam yang tersisa di atas kepala. Beliau berjalan dan semakin mendekati para penjual kaki lima yang memenuhi trotoar. Trotoar itu sudah beralih fungsi. Tak ada ruang lagi untuk para pejalan kaki melintas. Sadar di depannya tak bisa di lewati, bapak tua dengan susah payah menuruni trotoar -melanjutkan perjalanan di atas aspal yang penuh dengan genangan air. Sepatunya terlihat mulai basah, dan resiko cipratan air dari lalu lalang kendaraan mengancamnya. Berjalan di area itu pun tak luput dari bahaya kecelakaan.

Fikrar tak segera menyelesaikan lipatan jas hujannya. Ia bengong menyaksikan moment di depan matanya sambil mempertanyakan sebenarnya sistem apa yang sedang berjalan di kemegahan kota ini. Sepertinya tak lebih elok dari kehidupan hutan belantara yang tak pernah mempedulikan satu sama lainnyan. Sudah menjadi pengetahuan dasar bahwa trotoar merupakan tempat yang disediakan untuk pejalan kaki. Namun rasanya dewasa ini kejanggalan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan bukanlah suatu masalah. Tapi bagi Fikrar ini merupakan masalah besar yang menyangkut ketidakadilan. Perlu di tegakkan kembali apa yang menjadi hak sebagai pejalan kaki menikmati perjalanannya dengan nyaman terlebih mereka yang untuk berjalan pun sudah susah payah usahanya, bapak tua itu contohnya. Ini merupakan peran semua pihak. Kesadaran untuk kepentingan sesama perlu diutamakan. Terlebih – lebih kita yang hidup di kota yang tak kurang – kurangnya diajarkan sebuah peradaban. Sore itu Fikrar pulang tetap dengan gejolak dalam dadanya yang belum sedikitpun terobati. Bersama Jasper, ia berjalan menuju rumah dan bersiap memberikan senyum kepada keluarganya.

#BacaBiarBaik

1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *